Kenapa Memutuskan Menikah?

Jumat, 19 Juli 2019

Kenapa Memutuskan Menikah?


Lia Yuli Yani
Pernah pada waktu tes psikolog, ada form yang isinya menanyakan apakah keputusan terbesar dan terberat yang pernah anda ambil?
Tanpa mengesampingkan, hal lain saya menjawab : Memutuskan untuk menikah. Menikah itu bagi saya adalah sebuah keputusan, bukan pencapaian. Keputusan yang harus dijalani seumur hidup dengan penuh komitmen dan tanggung jawab. Lho, menikah itu pencapaian kali broooo! Ya, tapi bagi saya itu menjadi pencapaian apabila pernikahan itu mampu bertahan dan hidup bahagia sampai akhir hayat nanti, atau sampai ke pernikahan silver bahkan gold. Itu bagi saya yaa.

Jadi apa yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk menikah dengan pasangan saya saat itu? Pertama, setelah proses mengenalkannya ke orang tua saya yang lumayan selektif, somehow saya merasakan, pasangan saya saat itu bisa menempatkan diri dengan baik dan Ibu saya juga terlihat menerima dengan baik. Jadi hal pertama dan pamungkas kenapa saya memutuskan menikah adalah saya merasakan adanya chemistry yang bagus diantara ia dan Ibu saya. Hahaha..

Tahap kedua, Ia merupakan wanita karir! Salah satu syarat tak tertulis dari Ibu saya yang saya ingat, “ kalau bisa cari istri yang pinter bantu cari duit..” dan karena ia merupakan wanita karir, kami benar-benar saling mendukung pekerjaan satu sama lain, saling sharing, dan karena saya orangnya suka diskusi, dia menjadi lawan yang lumayan seimbang, hehe... dan tentu di sisi lain, saya merasa bisa “bersaing” dan “tertantang” untuk jadi lebih baik lagi dalam hal karir. 

Tahap ketiga, sudah merasa cukup dengan diri masing-masing. Secara emosional setidaknya kami sudah melalui 2 tahun bersama plus sudah traveling bareng, yang kata beberapa pakar cinta, haha..., travelling bersama pasangan bisa membuat kita mengetahui sifat dan perilaku pasangan baik saat senang dan capek. Jadi setelah beberapa kali jalan bareng dan kami masih bisa menerima kekurangan dengan batasan tertentu, ya akhirnya saya seperti yakin untuk berhenti di dia. Kemudian, yang nilai plus nya, she can bought the fancy things by her own. Entah bagaimana, hal itu bukannya membuat saya minder malah membuat saya semakin kagum, bahwa ia wanita mandiri secara finansial.

Secara garis besar, tiga hal tersebut yang membuat saya memutuskan untuk menikah, yang pastinya yang terpikirkan saat menulis artikel ini. Menikah adalah sebuah ibadah dan dijanjikan kenikmatan serta rejeki dari Allah, namun bukan berarti kita tidak menyiapkan dan memantaskan diri. Jangan sampai setelah menikah, ternyata kesedihan yang dirasa bukan kebahagiaan karena tidak sesuai harapan..