Hidup Prihatin ya Nak

Senin, 20 Mei 2013

Hidup Prihatin ya Nak

Percakapan malam ini dengan partner hati saya dimulai dengan merenungkan para anak kecil yang berjualan cobek di jalan. Di jalanan yang malam hari ini basah karena hujan sedari sore. Kami membayangkan anak tersebut lelah memikul tumpukan cobek tengah duduk di tepi jalanan yang basah, kedinginan, dan bahkan tengah kelaparan.

Kami membayangkan bersama yang kemudian tiba-tiba partner saya mengatakan bahwa saya tidak bisa hidup prihatin.

Ada perasaan sedih ketika sang partner hati mengatakan hal tersebut. Satu hal, dia sering membandingkan harga makanan yang ada di kampus. Saya selalu mengatakan, bahwa sehari makan saya itu minimal 20ribu dan dia dengan sumringah mengatakan 20ribu mungkin bisa untuk makan selama 3 hari.

Oke saya menjabarkan, harga makaann paling murah di kampus saya adalah 6000 yaitu mie goreng/rebus ditambah 2500 untuk minum (FYI, harga aqua 2500). Itu sudah 8500. Saya makan kira-kira pukul 10 pagi dan pukul 3 sore. 8500 dikali 2 = sudah 17000. Namun untuk minum, saya sering meminta atau bahasa gaulnya nebeng sama teman saya yang beli (karena itu saya sering diejek tidak bermodal) atau juga saya membawa sendiri dari kosan. Berarti minus minuman menjadi, 12000.

Untuk makan di warteg, paling murah harga 6000. Saya mungkin prefer ke warteg dengan hitungan yang sama.

Dengan intensitas perut yang mudah lapar ini, saya sering memaksakan di malam hari hanya meminum air putih untuk mengganjal perut yang keroncongan atau juga tidur lebih awal agar pagi datang lebih awal. Then, dari hal tersebut prihatin mana yang kamu ingkari?

Untuk masalah baju, saya termasuk pembeli 1 kali per 3 bulan. Dengan budjet yang tidak melebihi 200ribu dan celana jins paling mahal saya seharga 175ribu yang saya beli di Pasar Baru, Bandung. Karena itu lah saya sering dicengin atau diejek karena tidak bermodal dalam hal begitu. Tidak masalah, toh saya happy dengan intensitas belanja saya.

Ibu saya sering mengajari saya untuk hidup prihatin. Berhasil memang, karena beliau bisa membanggakan tentang diri saya yang sering sekali menyisihkan uang saya ke tabungan atau ke pihak yang menyalurkan dana sosial.

Ibu saya seorang wanita yang jauh di perantauan, jauh dari sanak saudara. Keuangan keluarga hanya ditopang dari Ayah saya yang bekerja di perusahaan BUMN. Gaji tidak besar, tapi mencukupi buat kami sekeluarga dan bisa membantu saudara-saudara kami di Pulau Jawa. Yang membantu keluarga kami? Mungkin Allah dan tangan-tangannya.

Tetapi Alhamdulillah, Ayah saya sering mengatakan tangan Allah yang membantu, dengan dana yang cukup dan hidup prihatin, kedua orang tua saya mampu menyekolahkan kami 4 bersaudara di perguruan tinggi yang bayarannya bisa dibilang mahal. Kenapa bisa begitu? (Baca: INI)

Ibu saya sering mengajari apabila mendapat rejeki berlebih dan masih ada sisa setelah disisihkan, ada baiknya dijadikan barang, agar saya tahu kemana larinya uang tersebut. Alhamdulillah di bulan lalu saya mendapat rejeki memenangkan lomba blog yang hadiahnya cukup besar. Setelah menyisihkan untuk menabung masa depan, masih ada tabungan yang tersisa. Dana yang tersisa itu rencananya akan saya gunakan untuk mengikuti training Progammable Logic Control di BPPT Serpong seharga 700ribu yang insya Allah berguna untuk nilai jual CV saya ke perusahaan-perusahaan yang ingin saya lamar setelah lulus nanti. Dan saya heran, keinginan saya itu sempat dipertanyakan oleh partner saya.

Dana yang tersisa itu saya jadikan kemeja dan parfum. Kemeja seharga 174.500 dan parfum seharga 125.000. Partner saya mempermasalahkan kembali, mempermasalahkan parfum yang seharga itu. Dalam konteks ini, saya ingin sekali merasakan parfum yang bisa dikatakan bermerk. Karena selama ini saya hanya menggunakan produk yang dijual di Alfamart/Indomart. Karena ada dana berlebih, kenapa tidak saya mencoba sekali saja. Harga itu juga tidak sebanding dengan teman saya yang membeli parfum seharga 800.000 (parfum atau apa itu -___-)

Partner hati saya itu kini tengah bekerja di salah satu mall besar di Alam Sutra. Meski hanya sabtu dan minggu, tetapi pekerjaannya sangat berat. Ia musti berdiri paling tidak 9 jam demi mendapatkan 100ribuan. Saya sangat memahami hal tersebut pasti sangat melelahkan dan saya tidak ingin ia sudah begitu lelah setelah bekerja harus lagi menunggu angkutan umum untuk pulang atau juga menerjang dinginnya malam sendirian.

Di keadaan tersebut, saya selalu memohon kepada Allah untuk selalu mencukupkan rejeki saya. Atau mungkin lebih baik daripada Ayah saya yang baru bisa membeli kemeja bagus dengan uang sendiri di usia 30an, sementara saya di umur 21 sudah bisa membeli emas 15 gram dengan uang sendiri (catat: bukan uang kiriman orang tua yang saya tabung). Saya mengakui hal tersebut tidak ada apa-apanya dibanding partner sepupu saya yang sudah bisa membeli mobil dengan hasil bisnisnya, tetapi perbandingan untuk lebih baik itu harus selalu ada dan melihat ke bawah itu penting, agar kita tetap ingat bahwa harta kita itu juga harus berguna untuk mereka yang kurang beruntung.

Terakhir, Ayah saya dulu sempat mengatakan ia ingin sekali kembali ke Mekkah sebelum parfum yang ia beli 13 tahun yang lalu habis. Tetapi saat ini ketika parfum tersebut telah habis, ia belum juga bisa kembali ke Mekkah untuk sekedar umroh. Partner saya ada saat saya menanyakan perihal parfum itu, tapi entah ia melihat atau tidak, Ayah saya mengatakan parfum tersebut telah habis dengan pandangan kosong yang membuat hati anaknya menangis.

Saya terkadang ingin sekali seperti keluarga lain, yang mendapat rejeki berangkat ke tanah suci seperti liburan ke Bandung. Yang mungkin dalam 5 tahun bisa berangkat 2 kali. Ya saya selalu berdoa dalam keprihatinan hidup saya, di level prihatin saya, saya diberi kecukupan untuk bisa membahagiakan orang tua, partner, dan diri saya sendiri.

Yang saya tahu juga, ketika saya mengganjal perut menggunakan air putih, mereka di rumah makan dengan tahu atau tempe serta sayuran sederhana setiap harinya. Sebuah hidup yang prihatin dibanding orang lain yang seusianya. Tetapi tetap saya bangga terhadap kedua orang tua saya, mereka bisa membuat kami berempat hidup dalam keprihatinan namun juga dalam kecukupan.

Hidup Prihatin ya Nak..
Dalem Buk..


1 Komentar untuk "Hidup Prihatin ya Nak"

Terima Kasih Udah Baca Artikel Blog Tyo. Silahkan berkomentar, bebas dan bertanggung jawab. Oh ya, masih banyak artikel bagus lho di blog ini, ditunggu komentar dan kunjungannya kembali