Kejayaan Jepang dan Captain Tsubasa

Senin, 06 Agustus 2012

Kejayaan Jepang dan Captain Tsubasa

Keberhasilan Jepang menjadi juara grup D di Olimpiade 2012, apalagi di pertandingan perdana mereka berhasil mengalahkan calon kuat peraih emas, Spanyol 1-0, yang berisikan materi cemerlang seperti De Gea, Javi Martinez, Juan Mata, ataupun Jordi Alba menandakan mereka telah sepantasnya semakin diperhitungkan di dunia sepakbola dunia.


Kegemilangan Jepang sudah dimulai sejak mereka lolos di Piala Dunia 1998 Prancis yang kemudian diteruskan dengan lolos ke Piala Dunia 3 edisi berikutnya, termasuk sebagai host World Cup 2002 bersama Korea Selatan. Ditambah tim sepakbola wanitanya sudah merajai dunia di tahun 2011 semakin menegaskan Jepang sebagai macan Asia yang sudah mengaum begitu keras.

Hidetoshi Nakata, Shunsuke Nakamura, dan Shinji Ono bisa dikatakan sebagai generasi pertama pemain sepakbola Jepang menginvasi Eropa. Nakata pernah menjadi deputi Pangeran Roma, Francesco Totti. Kegemilangan Nakamura di Skotlandia, serta Shinji Ono yang juga tak bisa dikesampingkan perannya di Liga Belanda.

Meminjam sebuah istilah sekuel manga legendaris di Jepang, menurut saya sekarang lah Golden Generation sepakbola Jepang.

Di Piala Dunia 2010, mereka berhasil melewati Denmark dan Kamerun. Belanda pun harus bersusah payah untuk bisa mengalahkan para samurai biru. Padahal di 2010 tersebut, Jepang hanya memiliki 4 nama yang bisa dikatakan tenar. Sebutlah Keisuke Honda yang bermain di Rusia, Makoto Hasebe, dan sang legenda Shunsuke Nakamura yang pernah merasakan kerasnya sepakbola eropa.


Di tahun 2011, sepakbola wanita Jepang meraih apa yang diimpikan setiap pesepakbola. Yaitu menjadi juara piala dunia. Jepang mengalahkan beberapa negara adidaya di dunia sepakbola wanita seperti Jerman, Swedia, dan tentu Amerika Serikat di Final.

Jepang bermain dengan sentuhan manis, menguasai permainan dengan passing-passing pendek, bermain sabar, dan menunjukkan teknik bermain yang sangat hebat. Jepang bisa dikatakan bukan sebagai tim yang kuat secara fisik, namun secara strategi dan teknik mereka lebih superior dibanding pelatih dan komentator yang sering menyalahkan postur tubuh.

2 tahun ke belakang, kita melihat banyak invasi pemain Jepang ke sepakbola Eropa. Mulai dari Shinji Kagawa yang bermain impresif membawa Dortmunt juara Bundesliga back to back. Tidak bisa dilupakan Nagatomo yang tercatat sebagai salah satu pemain yang konsisten di Inter Milan. Kemudian ada bek 24 tahun, Astato Uchida yang telah bermain 2 musim di Schalke 04. Tercatat juga Ryo Miyaichi, Takashi Usami, Hiroshi Kiyotake, Shiniji Okazaki, Hajime Hosogai, Takashi Inui, dan lainnya. Tentu kita tidak perlu lagi berkenalan dengan Keisuke Honda.

Mereka, terutama Kagawa, Honda, Nagatomo, dan Hasebe, telah berhasil beradaptasi dan menjadi andalan bagi klub masing-masing. Hal ini tentu mengangkat citra J-League, kualitas para pemain Jepang, dan tentu membuka peluang diliriknya pemain-pemain Jepang lainnya untuk bermain di Eropa.

Jepang Juara Dunia

Melihat perkembangan sepakbola Jepang seperti ini seakan berbanding lurus dengan cerita yang dibuat oleh penulis manga terkenal, Yoichi Takahashi. Melalui sebuah tokoh bernama Ozora Tsubasa, Jepang digambarkan bisa mengalahkan tim-tim besar. Di komik itu, diceritakan bagaimana sebuah Golden Generation terbentuk dari sebuah kompetisi usia dini. Di tingkat SD mulai terlihat bintang-bintang harapan sepakbola Jepang di masa depan, selain Tsubasa, seperti Misaki Taro, Kojiro Hyuga, Genzo Wakabayashi, Matsuyama, Misugi, dan lainnya.

Mereka tumbuh bersama dalam kompetisi yang berkelanjutan hingga akhirnya mereka mulai meraih berbagai gelar di kompetisi dunia level junior. Lalu diceritakan disana, Tsubasa Ozora bermain di Barcelona, Kojiro Hyuga menjadi penyerang top di Itali, dan Genzo Wakabayashi menjadi kiper tangguh di Liga Jerman.

Mimpi itu ada. Hidetoshi Nakata pun mengatakan, tokoh kartun Tsubasa Ozora lah yang menginspirasi ia untuk bermain sepakbola. Propaganda mimpi Jepang menguasai dunia melalui sepakbola melalui komik Captain Tsubasa sepertinya tinggal menunggu waktu untuk terwujud.

Bahkan apabila Jepang berhasil meraih emas Olimpiade di cabang sepakbola, saya tidak akan terkejut. Karena memang Misaki Taro, tokoh di manga tersebut, sudah yakin akan memenangkan emas Olimpiade bersama teman-temannya dan ia akan memberikan emas tersebut kepada Ayahnya.

Bola adalah teman. Keberanian untuk bermimpi diiring kekompakan serta kerja keras bisa terlihat dari manga Captain Tsubasa dan diterapkan dengan benar oleh pesepakbola Jepang.

Indonesia? Yuk nonton Tendangan si Madun Season 2.


4 Komentar untuk "Kejayaan Jepang dan Captain Tsubasa"

  1. Postingan yang Sangat bagus dan menarik untuk dibaca .... Saya suka mengunjungi blog ini.

    BalasHapus
  2. tendangan si madun???

    itu malah membuat anak2 muda indonesia makin goblok...
    jujur saja..



    kalo captain tsubasa dinilai tidak masuk akal karena bisa terbang terus salto, balik lagi, itu WAJAR.. kenapa? karena itu KARTUN..
    kalo KARTUN y ngk harus masuk logika,
    tapi tentu saja alur cerita, karakter tsubasa mampu menginspirasi orang..

    tendangan Si MADUN??
    maaf saja, ini PEMBODOHAN..


    BalasHapus

Terima Kasih Udah Baca Artikel Blog Tyo. Silahkan berkomentar, bebas dan bertanggung jawab. Oh ya, masih banyak artikel bagus lho di blog ini, ditunggu komentar dan kunjungannya kembali