Mereka Hanya Butuh Kepedulian Kita

Senin, 30 Juli 2012

Mereka Hanya Butuh Kepedulian Kita

Mahasiswa adalah agent of change. Begitu kata banyak orang. Maka dari dasar itu, ketika aku memasuki dunia perkuliahan, aku ingin mengubah mindset dari seorang yang memikirkan diri sendiri ke seorang yang ingin mencoba peduli terhadap sesama.


Aku mahasiswa. Aku kelahiran tahun 1992. Aku siapa? Aku lah satu dari sekian banyak yang digaungkan sebagai agent of change. Kamu tahu rasanya saat kamu menyadari bahwa selama ini kamu melupakan untuk bersyukur dan berbagi kenikmatan yang kamu dapat? Aku tahu tiada kata yang tepat untuk mewakilinya kecuali bila kamu merasakan dan merenunginya sendiri.

Aku deg-degan. Entah kenapa saat itu aku tiba-tiba mau saja menjadi seorang tenaga pengajar sukarelawan.

"Dek, aku lagi ikut ngajar di PAUD lho. Tapi bukan anak kecil saja. Ada anak dari kelas 1-6 SD juga ada anak SMA.", kakakku Tami, bercerita saat itu.

"Aku mau ikut mbak. Ada yang masih kosong gak mata pelajarannya?", Kalian tahu aku sendiri pun kaget mengatakan hal tersebut.

"Adek beneran mau? Yaudah, nanti kutanyain. Ini nomor koordinatornya, mungkin nanti dia yang langsung menghubungi kamu", jawab mbakku.

Sekarang aku terdiam. Aku melihat kiri-kanan. Tidak ada yang kucari sebenarnya. Tapi, telpon dari koordinator itu buat aku menjadi gugup. Tegang haha..

Aku angkat telpon itu. Terdengar suara Ibu disana. Wah seorang Ibu ternyata, aku kirain koordinatornya Bapak-Bapak.

Wah sebentar sekali rasanya dan tidak seseram yang kubayangkan. Perasaan ketakutan itu cuma gara-gara ilusi aku saja. Kata Ibu itu aku sudah bisa mulai mengajar Komputer mulai minggu depan. Katanya sih yang masih kosong ya itu, mengajar komputer.

Mulai aku merencanakan apa saja yang ingin ku ajarkan. Tentu yang pertama aku ajarkan adalah menggunakan fasilitas yang familiar di komputer. Microsoft Word. hehe..

Alhamdulillah Puji Tuhan, aku memiliki seorang ayah yang masa kecilnya dihabiskan di sebuah desa. Dia sering bercerita bagaimana ia harus berjalan tanpa alas kaki ke sekolahnya yang berjarak puluhan kilometer. Pulang sekolah pun ia harus mencari makan untuk sapi.

Makan siang? Jangan pikir ada makan siang. Kehidupan ayah saya adalah kehidupan sederhana. Mungkin bisa dibilang kurang mampu. Ia sering bercerita bagaimana ia menginginkan sebuah sepatu, ah jangankan sepatu. Buku pun saat itu ia tidak punya.

Karena itu, kini dia tidak ingin anak-anaknya ini mengalami nasib yang sama dengan dia. Sehingga apa yang kami inginkan, sepanjang itu berbau pelajaran dan pengembangan diri, ia tidak akan sungkan-sungkan mengabulkannya.

Lagi Try Out Bahasa Indonesia XD
Termasuk komputer. Aku masih ingat bagaimana saat aku masih di bangku TK, aku sudah bermain komputer. Di SD aku sering melihat laporan-laporan atau surat-surat penting ayah saya di komputer, bahkan terkadang ia menyuruh saya mengetiknya.

Itu ilmu standar yang, maaf, diantara teman sejurusanku, aku yang paling suka menulis di komputer atau laptop. Yang mau tidak mau, harus bersentuhan juga dengan microsoft word atau excel dengan segala tetek bengeknya itu.

Tidak benar kalau orang mengatakan lupakan masa lalumu. Karena sungguh apa yang kita dapatkan dan lalui di masa lalu itu lah yang membentuk diri ini di masa kini.

Ah aku terlalu jauh bercerita. Akhirnya aku saat itu mulai mencari referensi. Puji tuhan, dewanya para mahasiswa sangat berguna, yaitu dewa gugel. Satu klik saya sudah bisa mendapatkan ebook yang saya butuhkan.

Aku seorang mahasiswa, terlibat dalam aksi sosial umum, bukan aksi sosial kampus seperti banyak mahasiswa lakukan. Aku berjalan sendiri masuk ke lingkungan yang sama sekali belum aku kenal. Aku menjadi seorang pengajar yang bahkan aku sendiri tidak mempunyai basic mengajar. Aku kuliahnya jurusan Teknik Elektro lho.  Gimana hayo? haha

Tebak apa yang kudapat disana pada pertama kali datang?

Anak-anak yang langsung berlari berebutan komputer.

"Bapaknya datang. Cepat-cepat, gue sama elu ya bedua komputernya."

"Ah awas lu, gue udah duluan disini sama diee."

"eh sst, jangan berisik. Udah mau mulai."

Kesan pertama yang cukup bagus. Walaupun sempat shock mereka memanggil aku dengan sebutan bapak. (Setua itu kah mukaku?)

Kalian tahu apa yang aku rasakan? Semangat belajar mereka serta keingin tahuan mereka sangat besar. Serius. Memang, keterbatasan yang membuat mereka sebegitu hebohnya. Mereka ingin mencoba sesuatu yang menurut mereka menarik, bermain komputer. hehe..

Jangan bayangkan komputer yang cepat dan modern. Lambat cyiin.. haha.. bootingnya saja aku masih bisa berkenalan dengan mereka yang jumlahnya 23 orang dengan 6 komputer. Berarti satu komputer ada yang berempat ada yang bertiga.

Mereka berada di daerah yang cukup elit, yaitu Bumi Serpong Damai. Mereka hanya terpisahkan dinding dengan daerah tersebut. Bayangkan  dinding itu seolah menjadi pembatas antara keelitan dan maaf, keterbatasan. Benar-benar keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, kalau saya boleh nyinyir.

Daerah kampung mereka itu dikenal dengan daerah pengguna dan pengedar narkoba. Tingkat kekerasan baru turun beberapa tahun belakangan ini. Bayangkan bagaimana anak-anak ini tumbuh kembang.

Tapi sungguh tak seburuk itu. Kamu bisa merasakan bagaimana mereka bersemangat. Mau mendengarkan penjelasan dari aku dan bersabar mempraktekkan dengan jari mereka yang kaku, ah jangan bayangkan 10 jari atau 2 jari, cuma 1 jari bos.

Kamu tahu bagaimana saat itu seorang mahasiswa semester 3 menghadapi mereka? Seorang mahasiswa yang bukan dari Universitas Negeri yang terkemuka, yang bergelimang sorotan cahaya kepopuleran akan pendidikan, aku juga bukan mahasiswa dari Universitas Negeri yang cuma membuat sunat massal bisa masuk peliputan berita. Aku adalah mahasiswa Universitas Trisakti. Universitas yang mahasiswanya, maaf,  hanya segelintir orang peduli terhadap kegiatan sosial seperti ini. Mungkin jangan hitung itu kegiatan sosial kalau kegiatan sosial itu hanya sekedar menjalankan program kerja tahunan. Kamu bisa bayangkan dengan kebahagiaan serta keglamoran hidup yang bisa didapat dengan bergaul mereka di akhir pekan, tapi disini, di tempat itu aku sendirian menghabiskan hari mingguku menghadapi mereka, anak-anak yang lucu dan penuh semangat.

Tidak usah berbicara muluk-muluk mengenai belajar dengan teknologi, belajar dengan cara otak kanan, tengah atau otak dengkul. Percayalah, mereka, anak-anak yang penuh semangat ini, membutuhkan perhatian dan tentu kepedulian yang lebih dari kita semua, mahasiswa yang merupakan agent of change. Berhentilah berdemo hanya karena kepentingan orang yang membayar atau apalah itu. Karena sungguh, yang diharapkan oleh masyarakat adalah aksi kita di tempat sosial, bukan aksi turun jalan.

Kita terkadang terlalu egois mengejar pendidikan setinggi langit dan angkasa. Mencari beasiswa luar negeri dan sebagainya. Namun apa yang bisa dilakukan, bila hati kamu tertutup untuk peduli terhadap adik-adik kita yang untuk sekolah pun harus menunggu baju bekas dari aksi bakti sosial?

Kita ini orang terdidik dan tentu harus bisa menjadi pendidik. Bukan untuk keluarga kita saja, tapi untuk rakyat yang telah membiayai kuliah kita melalui subsidi pendidikan. Percayalah, kita semua akan lebih berguna saat ilmu yang kita dapatkan dibagikan kepada mereka, ya mereka hanya butuh kepedulian kita.

2 Komentar untuk "Mereka Hanya Butuh Kepedulian Kita"

Terima Kasih Udah Baca Artikel Blog Tyo. Silahkan berkomentar, bebas dan bertanggung jawab. Oh ya, masih banyak artikel bagus lho di blog ini, ditunggu komentar dan kunjungannya kembali