Humanitas Sebelum Tanda Tanya - @perdanap

Selasa, 03 April 2012

Humanitas Sebelum Tanda Tanya - @perdanap


HUMANITAS SEBELUM TANDA TANYA
Perdana Putri, Mahasiswi Program Studi Rusia 2011 Universitas Indonesia

Saya memang tidak kenal siapa Jamphel Yeshi, tapi satu hal yang paling jelas adalah; saya menangis dalam diam melihat fotonya, mungkin foto terakhirnya. Tidak ada pose yang menyenangkan, ia berlari dalam balutan api yang menghantarkannya kepada kematian dengan 98% luka bakar di tubuhnya. Lebih miris lagi, Yeshi bukan yang pertama, tercatat telah ada 30 orang biksu maupun biksuni yang membakar diri sebagai aksi protes terhadap pemerintahan Cina.


Saya tidak akan mengkritik Cina atau apapun yang berkaitan dengan siapa yang salah, siapa yang benar, saya melihat dari sudut pandang saya sebagai manusia biasa, yang hanya bermuram ketika melihat foto terakhir Yeshi, yang hanya dapat mempertanyakan dimana sisi humanitas yang dimiliki manusia kini.

Kalaulah kita memiliki kepedulian terhadap orang-orang minoritas, tidak hanya sekedar mengutuk di social media, namun juga membuat aksi, tulisan misalnya, untuk meraih kesadaran publik bahwa hal gila tersebut sedang terjadi, dan manusia yang memilih tinggal di comfort zone-nya harus ditampar dengan realita untuk menyadarkan bahwa zona nyaman mereka itu semu, dan dalam hitungan detik mereka bisa menjadi Yeshi berikutnya, pasti tidak ada Yeshi yang berlari hingga 50 meter meski badannya terbungkus dalam api.

30 biksu dan bikuni, ditambah dengan Yeshi, akan mati sia-sia kalau tidak ada simpati sedikitpun dari orang-orang. Yeshi tidak perlu terbalur api jika kita mau melihat kenyataan tentang apa yang sebenarnya terjadi, dan ini tidak hanya berlaku di tempat lain, di Indonesia. Sondang, mahasiswa UBK yang bakar diri dicemooh sebagai tindakan berlebihan, atau ada konspirasi cuci otak, apapun alasannya, seyogyanya publik melihatnya sebagai kecacatan sosial yang sedang terjadi. Jikalau benar ada pencucian otak, lalu kenapa hal itu bisa terjadi? Kalau ia memang berlebihan, berarti almarhum frustasi.

Saat mendengar komentar sinis publik tentang orang yang membakar diri sebagai bentuk protes, saya merasa sangat─amat sangat─sakit hati. Dia tidak punya humanitas dalam tubuhnya, dalam darahnya. Ya memang kita harus realistis bahwa terkadang tindakan seperti itu berlebihan, tapi jangan pernah berani menghujatnya kalau anda bahkan tidak punya gambaran tentang apa yang terjadi dalam diri orang tersebut.

Seperti kata Fichte, jenis filsafat yang dipilih seseorang bergantung pada jenis kepribadian orang tersebut, dan Yeshi hanya menjalankan salah satu perkataan Gautama Buddha, “Berbahagialah dia yang telah berhasil mengalahkan egonya, dia yang telah mencapai kedamaian dia yang telah menemukan kebenaran.” Dan Yeshi mengalahkan ego untuk hidupnya demi mencapai kebenaran yang ia yakini ada di dalam baluran api, untuk meraih kedamaian pribadinya.

2 Komentar untuk "Humanitas Sebelum Tanda Tanya - @perdanap"

Terima Kasih Udah Baca Artikel Blog Tyo. Silahkan berkomentar, bebas dan bertanggung jawab. Oh ya, masih banyak artikel bagus lho di blog ini, ditunggu komentar dan kunjungannya kembali