Tahun Pertama di UI: Jaket Kuning, Makara Putih

Minggu, 18 Maret 2012

Tahun Pertama di UI: Jaket Kuning, Makara Putih

Kembali tulisan teman hadir di Blog Tyo. Penulisnya adalah Perdana Putri(@perdanap). Dia sempat menulis salah satu artike tentang wanita idolanya, Suu Kyi. Kali ini ia akan bercerita mengenai pengalaman ia selama setahun kuliah di Universitas Indonesia. Kalau mau baca pengalaman setahun saya di Elektro Trisakti, bisa baca di Curahan Blog Tyo. hehe..


JAKET KUNING, MAKARA PUTIH

Oleh Perdana Putri, Mahasiswi FIB UI Tingkat 1. Program Studi Rusia.

Twit dari senior saya itu sederhana ‘ceritain dong tentang gimana sih rasanya jadi anak UI!’ Saya pun mulai mengenang apa yang terjadi selama enam bulan terakhir ini. Saya belajar, diberikan ridha oleh-Nya untuk masuk UI, menjadi seorang ‘the yellow jacketer’. Bangga? Pasti! Foto-foto dengan jaket almamater dan langsung menggantinya di foto profil halaman jejaringan sosial pada hari itu juga? Tidak. Bagi saya pribadi, nilai jaket almamater maknanya lebih dari sekedar ‘dibanggakan-ke-publik-sebagai-bukti-eksistensi-anda-di-kampus-favorit’. Jaket ini yang menemani Soe Hok Gie dan yang lainnya, rasanya tidak pantas kalau dibegitukan. Ups, saya malah jadi idealis! Mari kita fokus tentang kehidupan kampusnya

Hidup saya, karena masih mahasiswa baru, terkesan lempeng-lempeng saja. Hal-hal spektakuler belum terlalu terlihat. Yang membuat saya sibuk hanyalah Pekan Kreatif FIB UI yang benar-benar menyita waktu karena mau tidak mau itu wajib diikuti mahasiswa baru FIB (dan pada saat tulisan ini ditulis, kegiatan pun sudah selesai) dan kegiatan UKM yang telah saya pilih. Yah, setidaknya saya tetap punya kehidupan di kampus, tidak terlalu menyedihkan seperti mahasiswa kupu-kupu.

UI, Green Campus Katanya

Secara keseluruhan, saya suka berkuliah di UI. Apapun fasilitas yang kita inginkan ada; mulai dari bis kampus, sepeda kampus, ojek berhelm kuning yang sering mangkal di titik-titik keramaian UI (memudahkan kita untuk kemana-mana jika terlalu malas untuk naik bus—apalagi di hari bus tidak beroperasi), dan lain sebagainya. Satu hal yang menganggu saya adalah: bau dari danau di UI.

Yang tidak saya senangi adalah jargon UI sebagai ‘The Green Campus. It’s literally green! Air danaunya benar-benar hijau lumut, belum lagi baunya pasti membuat anda berpikir dua kali untuk hanya menyentuhnya seujung kuku. Sampah di danau? Jangan ditanya! Bahkan di depan gedung Fakultas Ekonomi (yang sering disebut sebagai gedung kampus paling wah se-UI!), di balik hutannya, terdapat danau yang baunya ‘semerbak’, dan danau ini terletak di samping jalur sepeda, saya jadi urung untuk naik sepeda ke kampus (FIB). Sering kali setiap pengurasan danau (karena itu danau buatan), baunya menyebar hingga ke kampus. Ini tidak menyenangkan bagi saya, karena lokasi FIB terletak di depan danau juga. Yang paling mengherankan, masih ada yang mau memancing disana! Saya bahkan tidak terpikir sekalipun ikan sudi tinggal di danau keruh itu, lebih jauh lagi, pikiran irasional saya membuat spekulasi kalau anda mencelupkan tangan ke danau UI, jari-jari anda akan bertambah.

Tapi terimakasih banyak kepada UI Green Community yang bersedia terjun ke lapangan untuk membersihkan danau. Sebuah danau di UI berhasil mereka beningkan kembali airnya dengan mengangkut sampah-sampah, menyaring air, dan memperingati warga sekitar untuk tidak membuang sampah lagi kesana.

Masalah kebersihan memang sangat krusial bagi UI. Jargon The Green Campus memang tidak boleh hanya menjadi jargon, apalagi UI sudah dikategorikan sebagai ‘World-Class University’ yang setiap bulannya mungkin menerima tamu-tamu negara (beberapa waktu lalu Duta Besar Italia yang baru dilantik, Presiden Jerman dan Wakil Duta Besar Rusia datang ke UI), yang mana hal ini membuat UI harusnya lebih concern dengan issu lingkungan di sekitar UI agar mendapatkan stereotip yang baik oleh khalayak asing yang bertamu maupun menuntut ilmu disana. Tidak hanya sekedar danau, tapi juga infrastruktur seperti toilet (jangan tanya toilet FIB seperti apa, saya pernah melihat seorang pelajar asing asal Korea menutup mulutnya dan seperti ingin muntah saat keluar dari toilet).

Jangan berharap terlalu muluk, dan jangan terlalu bangga dengan gelar ini-itu kalau bahkan hal-hal remeh yang penting bahkan tidak mampu dibenahi oleh kampus. Dan untuk mahasiswa, jangan hanya ‘omdo’ dan hujat rektorat, tunjukkan kalian juga bisa jadi independen Hal ini berlaku untuk semua mahasiswa dimanapun ia berkuliah.


p.s: hal ini pun membuat saya sadar dimana pun anda berkuliah, sekaliber apapun tempatnya, beberapa warganya tetap tidak tahu bagaimana caranya menggunakan toilet dengan baik, benar, dan bersih!

0 Komentar di "Tahun Pertama di UI: Jaket Kuning, Makara Putih"

Posting Komentar

Terima Kasih Udah Baca Artikel Blog Tyo. Silahkan berkomentar, bebas dan bertanggung jawab. Oh ya, masih banyak artikel bagus lho di blog ini, ditunggu komentar dan kunjungannya kembali