Bukankah Kita Semua Glory Hunters?

Rizki Prasetyo | 08.51 | 0 comments


Luar biasa! Itu dua kata yang keluar dari mulut saya saat membaca artikel Pangeran Siahaan di BeritaSatu.com. Glory Hunter seakan menjadi sebutan pagi para suporter kafe kepada penyuka sepakbola yang baru muncul. Blog Tyo mengakui secara terbuka kalau Blog Tyo memang seorang Glory Hunter-terlepas dari fakta saya menyukai Juventus sejak awal 2000an dan Arema Indonesia sejak 2006-. Mengapa saya menyebut diri saya Glory Hunter, karena selain menyimak perkembangan Arema Indonesia dan Juventus melalui internet, saya sangat menggemari Man. City dan Barcelona. Barcelona lebih khususnya sejak kedatangan Ronaldinho dan City sejak musim 2010/2011.


Namun amat disayangkan, apabila seorang Glory Hunter dikatakan sebagai orang yang tak mengerti bola. ambil contoh saya, saya sangat menggemari Liga Lokal, terutama Arema Indonesia. Dua kali menyaksikan Arema bertanding di Pekanbaru dan Karawang. Mengalami yang namanya dilempari penonton lawan di Pekanbaru dan mengalami rasa mencekam saat dikepung Viking di Karawang. Sesuatu yang bagi suporter kafe belum pernah rasakan.

Terserah apa kata mereka, setelah saya benar-benar mencintai klub lokal, saya ingin mencoba mencari hiburan di liga luar negeri, tentu tanpa melupakan Arema Indonesia. Tentu hiburan yang menyenangkan, karena kemenangan dan kekalahan sudah sangat kenyang dirasakan saat mendukung Arema. Karena itulah, ketika saya berbicara tim luar negeri, saya dengan bangga menyatakan, I'm a Glory Hunter.


Menggemaskan sekali bagaimana kita, para penikmat sepak bola mancanegara lewat televisi, saling melabeli satu sama lain dengan sebutan Glory Hunters. Sudah lumrah bagi penggemar Liverpool, klub yang terakhir juara saat George Bush senior masih jadi presiden Amerika Serikat, untuk menuding fans Manchester United sebagai glory hunters.


Pecinta Manchester United akan menuduh fans Chelsea sebagai Glory Hunters. Fans Arsenal, yang tujuh tahun tak pernah menang apa-apa, merasa bangga karena dirinya bukan Glory Hunters dan menyematkan label itu pada fans United. Fans Arsenal tak bisa menuding fans Liverpool, mereka sudah lama-lama tidak menang.


Tapi semua penggemar klub-klub Premiership di Indonesia itu sepakat bahwa label Glory Hunters yang paling pekat pantas disandang untuk fans Manchester City.


Semua merasa dirinya suporter sejati. Menggelikan.


Sebelumnya, mari kita definisikan dulu Glory Hunters. Ini adalah istilah yang muncul pada medio 90-an seiring mendunianya nama Premier League. Ekspos media yang besar dan tayangan siaran langsungnya yang merambah berbagai penjuru dunia melejitkan nama Liga Inggris sebagai salah satu kompetisi top.


Sejalan dengan meningkatnya citra dan coverage, maka banyak bermunculan fans-fans baru klub Inggris di negara lain, termasuk benua Asia.


Berlainan dengan asal muasal suporter tradisional yang mendukung suatu tim karena faktor geografis atau demografis, fans-fans baru yang bermunculan ini mendukung tim tergantung siapa yang mereka lihat di televisi.


Lazimnya manusia yang selalu ingin diasosiasikan dengan yang terbaik, maka lumrah bagi fans sepak bola jenis ini untuk mendukung tim yang mereka anggap bermain baik. Tidak ada kelekatan sejarah atau primordia karena memang terpaut jarak antara domisili mereka dengan klub-klub itu di tanah asalnya.


Parameter memilih tim yang terbaik relatif mudah, orang yang baru menonton sepak bola dan memutuskan untuk menyukainya akan dengan cepat tertarik pada tim yang sedang berjaya di musim itu. Jelas saja ini lumrah karena tidak ada faktor kedekatan apa-apa antara fans sepak bola kasual yang menyaksikan beribu-ribu kilometer jauhnya dari stadion lewat televisi dengan kota tempat klub tersebut berasal.


Istilah Glory Hunters digunakan untuk mendeskripsikan fans sepak bola musiman yang tim kesayangannya berganti-ganti tergantung siapa yang sedang berjaya. Contohnya, pada akhir tahun 90-an, mendukung Manchester United, pertengahan medio 2000-an mendukung Chelsea, dan sekarang menjadi fans Barcelona. Ini adalah kasus ekstrim dan walaupun terdengar tak mungkin, saya kenal beberapa orang seperti ini.


Fenomena Glory Hunters ini tidak terelakkan ketika modernisasi sepak bola terjadi dan olahraga ini merambah masuk ke budaya populer. Lapisan suporter tradisional mendapat kawan baru dengan masuknya penggemar-penggemar sepak bola kelas sofa yang meskipun berbagi keriaan, belum tentu berbagi sentimen emosional.


Glory Hunters kerap diasosiasikan dengan penonton sepak bola Eropa dari Asia karena memang di sinilah basis penggemar sepak bola jenis baru yang muncul setelah globalisasi sepak bola. Sepak bola Inggris, contohnya, adalah isu lokal bagi orang Inggris sampai ketika Premiership dan Sky Sports muncul menjadikannya isu global lewat siaran televisi.


Penggemar sepak bola di Asia sangat mudah menyukai sepak bola Eropa karena kualitas sepak bola mereka sendiri yang belum memadai. Karena manusia selalu ingin diasosiasikan dengan yang terbaik, maka para penggemar di Asia ini akan memilih sendiri dengan klub Eropa mana mereka ingin diidentifikasi.


Maka kita bisa menemui bagaimana orang memutuskan untuk memilih satu klub Eropa sebagai identitasnya, malahan bisa berganti-ganti tergantung kebutuhan hatinya. Yang menarik, Glory Hunters jarang sekali ditemui dalam sepak bola lokal, penyebabnya sederhana: karena penggemar sepak bola lokal yang datang ke stadion memiliki tingkat kedekatan emosional dengan klub lokal yang berbeda dibanding dengan penggemar klub Eropa yang menyaksikan dari TV.  


Kita tidak pernah menemui penggemar sepak bola Indonesia yang tahun lalu mendukung Persipura Jayapura, lalu sekarang menjadi suporter Sriwijaya FC.


Kembali ke premis awal tulisan ini, menggelikan sekali mengamati bagaimana kita sering larut dalam pertengkaran mengenai siapa suporter klub Eropa sejati saat yang membedakan kita adalah masa kita mulai menonton sepak bola. Ini selalu menjadi hipotesa saya bahwa yang menentukan kecintaan seorang penonton sepak bola kasual pada sebuah klub adalah siapa yang sedang berjaya masa itu.


Maka wajar bagi anak-anak yang tumbuh besar di medio 90-an seperti saya untuk menggandrungi Manchester United. Demikian juga dengan mereka yang beranjak besar pada tahun 2000-an dan saat mereka menyalakan TV, mereka mendapati Chelsea sedang di puncak.


Tak sedikit juga orang yang memutuskan menjadi fans Arsenal pada musim 1997/1998 atau ketika era The Invincibles tahun 2004. Suporter Liverpool yang berusia dewasa, bukankah banyak dari mereka yang mulai menggemari pada dekade 1980-an, saat klub Merseyside tersebut sedang berjaya?


Kita semua ingin diasosiasikan dengan kejayaan, atau setidaknya romantisme di saat dulu kita pertama kali melekatkan diri pada kejayaan.


Kita semua sama. Kita semua Glory Hunters.




Rating: 4.5

Category : ,

About Blogtyo.com :
Rizki Prasetyo Hutomo seseorang yang cinta sepakbola, namun tidak bisa bermain bola. Biasa dipanggil Rizki atau Tyo. Biasa menulis di kala senggang, tulisannya telah masuk dalam proyek nulisbuku.com

0 comments

Terima Kasih Udah Baca Artikel Blog Tyo. Silahkan berkomentar, bebas dan bertanggung jawab. Oh ya, masih banyak artikel bagus lho di blog ini, ditunggu komentar dan kunjungannya kembali