Komodo dan Keajaiban Sepakbola

Rizki Prasetyo | 13.48 | 0 comments


"Borobudur candi yang paling termegah, di antara tujuh keanehan dunia. Borobudur peninggalan nenek moyang kita, lambang tinggi kebudayaan bangsa Indonesia."

Kenal dengan lirik lagu ini? Borobudur menjadi salah satu lagu andalan Indonesia di Festival Pop Song Asean III pada tahun 1983 di Jakarta. Di eranya, duet Nola Tilaar dan Euis Darliah kerap muncul di layar kaca melalui TVRI untuk memancing perhatian masyarakat Indonesia terhadap salah satu kekayaan bangsa ini.

Setahun sebelumnya, Organi­sasi PBB untuk Pendidik­an, Ilmu, dan Budaya (UNESCO), menetap­kan Candi Borobudur sebagai situs warisan dunia. Pertanyaannya, bila UNESCO tidak memasukkan Candi Borobudur sebagai salah satu bagian dari world heritage site, apakah perhatian kita terhadap bangunan bernama asli Bhumi Sambhara Bhudhara cukup besar?

Candi Borobudur melintas dalam ingatan ketika belakangan ini saya mendapatkan banyak pesan singkat, baik di telepon selular maupun jaringan sosial. Isinya ajakan untuk mendukung Pulau Komodo menjadi bagian dari tujuh keajaiban dunia.

Dari sejumlah harga hingga gratis, ajakan memilih habitat asli hewan langka di Nusa Tenggara Timur menjadi isu nasional yang menggerakkan kecinta­an masyarakat terhadap salah satu bagian dari kepingan Nusantara.

Ora, demikian penduduk asli Pulau Komodo menyebut spesies kadal terbesar di dunia ini, meneruskan tugas batik yang ber­peran menjahit perhatian bangsa ini dalam sebuah kain luas.

Kalau mau jujur, sebelum isu pengklaiman Malaysia terhadap kerajinan tekstil batik ini, berapa besar perhatian kita terhadap industri khas masyarakat Indonesia? Ajakan berbaju batik pada hari tertentu muncul karena kita marah atas kepe­dulian Malaysia terhadap Batik.

Kembali ke ora, terlepas berhasil atau tidaknya Pulau Komodo menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia yang baru,  keajaiban di Tanah Air tak boleh berhenti. Bahkan, banyak sekali hal-hal yang "ajaib" muncul di hadapan kita, dalam kehidupan sehari-hari.

Baru-baru ini, saya menyak­sikan tayangan berita mengenai kematian komodo di kebun binatang di salah satu kota besar Tanah Air. Kadal besar yang masih hidup di sana dan tertangkap kamera wartawan pun tubuhnya kurus, tidak seperti komodo di brosur yang saya dapatkan di Kota Kupang, NTT, pada Juni lalu.
Adalah absurd bila sebagian orang mengais dukungan masya­rakat agar Pulau Komodo menjadi bagian dari keajaiban dunia tetapi pihak lain menelantarkan hewan itu di hadapan mereka.

Keajaiban lain yang saya saksi­kan adalah pawai kostum di sebuah Taman Kanak-Kanak, di lingkungan rumah, pada Jumat, 28 Oktober 2011. Sebagian besar bocah tak terlalu memikirkan kostum yang dipakai, tetap para auntie, sebutan untuk guru wanita di sekolah itu, ber­semangat-ria mengenakan kostum hitam, plus gigi taring palsu.

Alamak, bukankah Jumat itu seharus­nya diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda, dan bukannya festival perayaan Halloween, yang dirayakan di negara asal (Irlandia) pada 31 Oktober?

Bagi saya, pertujukkan Jumat pagi itu adalah kepedihan. Semoga bocah-bocah di Tanah Air tidak diberi keajaiban yang melupakan sejarah bangsanya sendiri. Karena dari panggung sepak bola bangsa ini telah lahir berbagai keajaiban aneh.

Beberapa waktu lalu, sindiran kepada federasi sepak bola negara ini adalah frekuensi kemuncul­an para pengurus di media massa yang mengalahkan para pemain, aktor sesungguhnya.

Sepak bola seharusnya menjadi pertarungan menjadi yang terbaik antara 11 pemain melawan 11 peman lain di lapangan berlandaskan aturan yang telah dipahami bersama. Tapi kenapa berita mengenai pengurus lebih banyak menyapa masyarakat Indonesia?

Bila Yayasan New7Wonders yang bermarkas di Swiss mencari tujuh keajaiban baru di dunia, mungkin FIFA bisa melakukan pen­carian tentang berbagai keanehan dalam sepak bola di muka bumi ini.
Mungkin, masyarakat Indonesia tak perlu menggerakkan aksi kirim sms agar sepak bola kita masuk ke dalam salah satu keajaiban dunia.

Mungkin, FIFA langsung meng­arahkan pandangannya ke Tanah Air karena menemukan banyak keanehan di sini.

Mungkin, PSSI akan berada di urutan teratas sebagai federasi pengelola sepak bola bergejolak tiada henti. Bukankah ajaib bila kita memecahkan masalah dengan memunculkan persoalan baru?
Bagaimana mungkin ada dua liga dalam satu negara yang sama-sama mengaku sebagai panggung paling elite dengan level permainan tertinggi bagi pesepak bola di sana?

Aksi saling klaim kebenaran dan strategi balas dendam para pengurus dan tokoh yang bertikai menjadi hiasan di media massa, mengalahkan perjuangan dan persiapan para pesepak bola yang berniat membela dan mengharumkan nama bangsanya.

FIFA yang menjadi saksi drama memalukan dan memilukan federasi sepak bola Indonesia kembali harus terlibat dalam kekisruhan setelah era Nurdin Halid usai. Sungguh ajaib, bangsa ini menjadikan sepak bola sebagai alat perjuangan (kepentingan kelompok), dan bukan tujuan akhir yakni sebagai salah satu bagian dari kehidupan positif masyarakat banyak.

Dalam lagu Borobudur, muncul kata-kata, "Hati kami tersentuh memandangmu, untuk sadar meles­tarikanmu, agar tak punah dari ganasnya alam, juga tangan-tangan jahil merusakmu."

Ayo, siapa pun yang tersentuh dengan kondisi saat ini, mari selamatkan sepak bola Indonesia dari tangan-tangan jahil.

Category : ,

About Blogtyo.com :
Rizki Prasetyo Hutomo seseorang yang cinta sepakbola, namun tidak bisa bermain bola. Biasa dipanggil Rizki atau Tyo. Biasa menulis di kala senggang, tulisannya telah masuk dalam proyek nulisbuku.com

0 comments

Terima Kasih Udah Baca Artikel Blog Tyo. Silahkan berkomentar, bebas dan bertanggung jawab. Oh ya, masih banyak artikel bagus lho di blog ini, ditunggu komentar dan kunjungannya kembali