Asal-Usul Jam Gadang

Jumat, 07 Oktober 2011

Asal-Usul Jam Gadang

Jam Gadang Bukittingi
Ponakanku Waktu Liburan ke Bukittinggi
Asal-Usul Jam Gadang. Libur Lebaran tahun ini, saya beserta keluarga saya akhirnya mengunjungi kembali provinsi Sumatra Barat. Seingat saya, sudah hampir 6 tahun lebih sejak terakhir kali mengunjungi kota asal muasal suku minang ini.

Sebenarnya banyak yang khas dari provinsi yang sempat dijadikan ibukota darurat negara Indonesia di masa mempertahanan kemerdekaan. Namun, saya hanya akan memberi Info tentang satu peninggalan dari jaman penjajahan Belanda, yaitu Jam Gadang.


Jam Gadang adalah menara jam yang menjadi markah atau kebanggaan kota Bukittinggi dan provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Simbol Sumatera Barat ini pun memiliki cerita serta keunikan karena usianya yang sudah puluhan tahun.


Jam Gadang itu ternyata ada artinya lho. Jam Gadang itu sebutan yang diberikan oleh masyarakat Minangkabau yang kalau diartikan berarti Jam Besar. Saking fenomenalnya, sampai-sampai semua orang yang datang ke Bukittinggi rasanya tidak lengkap apabila tidak ke Jam Gadang ini.



Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazid Sutan Gigi Ameh. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, Controleur (Sekretaris Kota) Bukittinggi pada masa Pemerintahan Hindia Belanda dulu. Peletakan batu pertama jam ini dilakukan putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berumur 6 tahun.

Denah dasar (bangunan tapak berikut tangga yang menghadap ke arah Pasar Atas) dari Jam Gadang ini adalah 13×4 meter, sedangkan tingginya 26 meter.

Jam Gadang ini bergerak secara mekanik dan terdiri dari empat buah jam/empat muka jam yang menghadap ke empat arah penjuru mata angin dengan setiap muka jam berdiameter 80 cm.

Menara jam ini telah mengalami beberapa kali perubahan bentuk pada bagian puncaknya. Pada awalnya puncak menara jam ini berbentuk bulat dan di atasnya berdiri patung ayam jantan. Saat masuk menjajah Indonesia, pemerintahan pendudukan Jepang mengubah puncak itu menjadi berbentuk klenteng. Pada masa kemerdekaan, bentuknya berubah lagi menjadi ornamen rumah adat Minangkabau.

Pembangunan Jam Gadang ini konon menghabiskan total biaya pembangunan 3.000 Gulden, biaya yang tergolong fantastis untuk ukuran waktu itu. Namun hal itu terbayar dengan terkenalnya Jam Gadang ini sebagai markah tanah yang sekaligus menjadi lambang atau ikon Kota Bukittinggi. Jam Gadang juga ditetapkan sebagai titik nol Kota Bukittinggi.

Ada satu keunikan dari angka-angka Romawi pada muka Jam Gadang ini. Bila penulisan angka Romawi biasanya mencantumkan simbol “IV” untuk melambangkan angka empat romawi, maka Jam Gadang ini bertuliskan angka empat romawi dengan simbol “IIII” (umumnya IV).


1 Komentar untuk "Asal-Usul Jam Gadang"

Terima Kasih Udah Baca Artikel Blog Tyo. Silahkan berkomentar, bebas dan bertanggung jawab. Oh ya, masih banyak artikel bagus lho di blog ini, ditunggu komentar dan kunjungannya kembali