Ke Jakarta Ku Akan Kembali

Sabtu, 10 September 2011

Ke Jakarta Ku Akan Kembali


Gema adzan maghrib seakan meramaikan langit kota ini. Kota yang kembali akan kutinggalkan setelah hampir 2 bulan aku berada disini. Kota dimana aku menghabiskan 9 tahun jatah usia. Kota dimana aku mengalami bahagia canda tawa masa kecil, kota dimana aku bercumbu mesra dengan cinta monyet ala remaja yang baru puber, kota dimana aku merangkai harapan dan impian masa depan.


Di sekitarku, terdengar gelak tawa seorang ibu yang bersama teman seperibuannya. Anak-anak kecil yang berlarian sambil tertawa lepas mengelilingi ruangan. Seorang bapak yang keliatannya sedang berbicara di telpon dengan rekan bisnisnya. Sepertinya ia tidak sadar suaranya terlalu keras yang menyebabkan banyak calon penumpang geleng-geleng kepala.

Ruang tunggu bandara seakan menjadi ruang renunganku. Sudah kebiasaanku. Walaupun berada di keramaian aku tetap mampu bermain-main dengan alam bawah sadar. Tiba-tiba tersenyum manis saat teringat peristiwa menarik dan lucu di masa lampau, tersenyum simpul saat terbayang berbagai kejadian yang menyakitkan hati, menghela nafas saat semua kenangan itu terasa menyesakkan dada.

Masa lalu adalah suatu keindahan, maka genggamlah masa lalu itu agar keindahan selalu mewarnai harimu. Quote yang lupa darimana aku peroleh. Masa lalu adalah suatu pembelajaran. Dimana hal-hal buruk yang telah terjadi tak perlu lagi kita ulangi kembali di masa depan. Karena itulah, masa lalu bukan dilupakan, tapi digenggam agar kita ingat bahwa dulu kita pernah merasakan hal yang manis atau pahit.

Semenjak aku lulus dari bangku SMA, ini kedua kali aku duduk sendiri di ruang tunggu bandara ini. Pertama saat aku berangkat sebagai mahasiswa baru dan yang kedua saat aku hendak memasuki tahun kedua. Berbeda dengan beberapa temanku yang mungkin tiap 3 bulan sekali pulang-pergi seolah-olah jarak kota ini seperti Jakarta-Depok.

Setahun sebagai mahasiswa baru banyak merubah pola pikirku. Yaa, setidaknya suasana kuliah yang serba individu tak kurasakan di kampusku. Kebersamaan dan kekeluargaan begitu kental sehingga aku tak terlalu merasa homesick. Tapi entahlah beberapa waktu ke depan.

Aku terhenyak, setahun disana sangat tak terduga. Banyak peristiwa yang tidak pernah sama sekali kubayangkan. Peristiwa yang tentu membuat aku menjadi mahasiswa yang bisa bermasyarakat. Bukan mahasiswa yang sekedar menuntut ilmu dan berfoya-foya karena merasa hidup bebas.

Aku berfoya-foya? Boro-boro. Untuk ke mall aja mikir-mikir,hehe.. Berpeluh keringat di kamar kosan walaupun sudah ada kipas angin menjadi suatu yang lumrah, berjalan kaki ke kampus selama 10 menit sudah rutinitas, kemana-mana naik trans Jakarta atau naik kopaja, bersempit-sempitan di kereta commuter line menjadi hal yang biasa aku alami di awal dan akhir pekan, atau menahan lapar karena memang uang kiriman kalau dihitung memang cukup untuk makan 3 kali sehari selama 1 bulan.haha.. Untung aku masih punya saudara yang bisa aku tumpangi makan untuk perbaikan gizi di akhir pekan

Hidup bersenang-senang gak perlu belajar, tapi hidup bersusah-susah itu perlu belajar. Itu nasihat ibuku yang selalu aku ingat sampai sekarang. Dengan uang kiriman yang ternyata lebih sedikit dibanding harga sewa kosan temanku perbulan benar-benar mengajarkan aku hidup prihatin, hemat, serta sederhana namun tidak malu-maluin. Ya inilah hidup, hidup aku di kota itu selama setahun terakhir.

Hup! Kuperbaiki posisi dudukku. Renunganku terpecah saat tiba-tiba pengeras suara mengeluarkan pengumuman. Ya itu panggilan buat para penumpang pesawat yang kutumpangi. Sebuah burung besi yang besar akan membawaku kembali ke tempat perjuangan mewujudkan harapan dan impian yang kurangkai dahulu. Kembali ke tempat yang banyak mahasiswa daerah takutkan karena begitu cepat dan kerasnya kehidupan disana. Kembali ke kota yang kebaikan dan kejahatan jaraknya lebih tipis dari sehelai rambut. Ke kota yang katanya metropolitan, sebenarnya lebih banyak perkampungannya. Kota yang telah kehilangan identitasnya dikarenakan begitu banyak suku yang berada di kota itu.

Bagaimanapun kota itu, ke Jakarta ku kan kembali…  

1 Komentar untuk "Ke Jakarta Ku Akan Kembali"

Terima Kasih Udah Baca Artikel Blog Tyo. Silahkan berkomentar, bebas dan bertanggung jawab. Oh ya, masih banyak artikel bagus lho di blog ini, ditunggu komentar dan kunjungannya kembali