Bu, Jangan Rasis dong..

Jumat, 12 Agustus 2011

Bu, Jangan Rasis dong..


Gelak tawa seisi kelas meledak setelah guru sejarah SMA kami mengatakan,’Jangan jadi seperti orang jawa yang hanya bisa ngomong nggeh dalem, gara-gara itu bangsa kita dijajah Belanda 3,5 abad lamanya.’

Saya langsung merasa jadi bahan olokan saat itu. Saya adalah keturunan Jawa. Ayah saya Jawa timur, Ibu saya Sunda, namun telah lama tinggal di Jawa Timur. Sanak keluarga pun banyak berada di Jawa Timur. Dengan keadaan seperti itu, tidak heran tatakrama serta kebiasaan orang Jawa melekat pada diri saya.

Saat itu saya sedang belajar di salah satu SMA favorit di kota Pekanbaru, Riau. Pernyataan itu dikemukakan oleh guru sejarah SMA saya yang bersuku Melayu, yang notabene dikenal dengan suku yang lebih suka mengurus diri sendiri dan cangkrukan di warung kopi pada jaman dahulu (atau jaman sekarang pun masih?)

Sudahlah, masalah suku sangat sensitif untuk diperbicangkan. Sesensitif pembicaraan tentang agama.

‘Lho, kenapa bawa-bawa agama?’ Pasti banyak orang akan berkata begitu. Nah, bukankah agama merupakan pondasi dari segalanya?

Masalah yang saya tulis di artikel Bangsa Lupa Bangsanya hanyalah seupil masalah bangsa kita.

Banyak dari kita sekolah tinggi-tinggi, meraih berbagai gelar. Kemudian memiliki berbagai kemampuan kepemimpinan yang kini sedang populer dipelajari.

Ibarat sebuah gedung megah yang ternyata tidak memiliki sebuah pondasi yang sangat kuat, lambat laun gedung tersebut akan rusak dan rubuh.

Menurut kamu, apa sebuah pondasi dasar bagi seorang manusia? Walaupun kita berbeda-beda keyakinan, pasti kita pernah diajari bahwa Agamalah pondasi manusia dan agama jugalah yang akan menuntun kita menuju kebenaran.

*****

‘Kalau gak ada orang Jawa, bangsa ini gak bakal merdeka,’ bela papa saya begitu saya ceritakan perihal pernyataan rasis itu.

‘Tanpa kehadiran orang Jawa, Batak, dan Minang, Riau ini hanya akan menjadi hutan dengan minyak dibawahnya yang menjadi buruan para pemerah kekayaan alam bangsa ini,’ ucap papa saya.


Sementara para suku asli asyik berkomentar dan mengopi di warung kopi favorit, para pendatang terus membuka lahan, mengambil kekayaan alam Riau, serta membangun Riau demi kelancaran bisnis mereka. Para suku asli baru menyadari mereka diperah ketika cadangan minyak di Riau mulai menipis. Ketika jalan di ibukota propinsinya mulai bagus. Ketika hutan mereka telah gundul. What were you doing before ?

*****

‘Saya cuma dapet THR Rp7.000,- tahun ini,’ ucap salah satu abdi dalem keraton Yogyakarta.

‘THR baru 2 tahun belakangan ini diberikan, sebelumnya tidak ada.’

‘Ini pengabdian. Niatnya murni mengabdi dan ikhlas.’

Menjadi abdi dalem bukan karena uang pemberian keraton. Mereka mengaku mendambakan berkah dari tuhan sebab pengabdian itu mebutuhkan keikhlasan dan niat baik dari dalam diri sendiri.

‘Selami 31 taon kulo ngabdi wonten keraton mriki, kulo ngeraosaken tentrem ing pengayuh.’
Selama 31 tahun mengabdi, salah satu abdi dalem mengatakan ia merasakan ketentraman di hati.

Dear bu guru sejarahku, adakah dari keturunanmu atau dari sukumu yang bisa melakukan hal yang sedemikian ikhlasnya? Kami terbiasa membantu teman/saudara dengan hati ikhlas tanpa pertimbangan rugi untung yang kami dapatkan dari itu. Kami orang Jawa masih memiliki rasa persaudaraan dan kebaikan hati yang malah terkadang kalian salah gunakan.

Apa anda masih mengatakan nggeh dalem itu sebagai tanda ketololan orang jawa?


berbeda namun satu


Andai anda tahu bu guru yang saya hormati, nggeh dalem itu lebih kepada rasa hormat dan sopan santun yang sangat tinggi yang mungkin tidak ada padanan katanya di tata krama anda. Sangat disayangkan seorang guru yang harusnya mengajarkan sesuatu yang baik, malah lebih menyalahkan satu suku yang menyebabkan kita dulu dijajah.

Sudahlah, cukup. Jangan sampai pembahasan berbau rasis ini menjalar kemana-mana.
Bukankah kita memang tercipta laki-laki dan wanita dan menjadi suku-suku bangsa yang pasti berbeda? Bukankah kita memang harus saling mengenal dan menghormati? Bukankah begitu bu guru?

1 Komentar untuk "Bu, Jangan Rasis dong.."

  1. wahhh wahhh....jujur setelah sy baca blog ne jadi esmoni dibuatnya....sy guru sejarah dari suku jawa asli jogjakarta dan sy mengajar jg di prop.riau kabupaten bagansiapiapi....klo da guru yg berbicara spt tu sungguh sgt disayangkan, yg seharusnya guru tu mendidik malah menimbulkan persepsi anarkis gitu!!!!!klo ktmu sm guru ybs kira2 bagus'y mw sy buat pa y?huhhhh!!!!

    BalasHapus

Terima Kasih Udah Baca Artikel Blog Tyo. Silahkan berkomentar, bebas dan bertanggung jawab. Oh ya, masih banyak artikel bagus lho di blog ini, ditunggu komentar dan kunjungannya kembali