Persija-PSPS, Pesta Terakhir ISL 2010/2011

Kamis, 30 Juni 2011

Persija-PSPS, Pesta Terakhir ISL 2010/2011



Persija menjamu PSPS adalah pertandingan terakhir Indonesia Super League musim ini. Persija akhirnya diperbolehkan bermain kandang di Jakarta, setelah sebelumnya menjalani laga kandang "usiran" di Solo.

Sempat terancam tanpa penonton, akhirnya panpel Persija mendapatkan ijin menggelar pertandingan di Gelora Bung Karno dengan kehadiran penonton.

Saya yang sebelumnya sempat kecewa karena mendengar partai terakhir ini digelar tanpa penonton, langsung gembira saat diberitahu teman saya bahwa pertandingan itu diijinkan dengan penonton. Keinginan saya untuk melihat langsung dan menghadiri "ibadah" terakhir musim ini akhirnya terwujud.

Kalau kita bercerita ingin menonton pertandingan Liga Indonesia, kita harus siap melihat dan mendengar komentar orang sekitar yang mempertanyakan keinginan tersebut. Komentar yang menjatuhkan dan merendahkan itu sepertinya sudah saya maklumi. Mungkin mereka-mereka yang berkomentar miring itu sudah terbiasa dimanja dengan siaran-siaran sepakbola luar negeri.

Memang sempat terbesit dalam hati saya kekhawatiran saat akan berangkat menuju GBK. Karena selama ini, saya sering membaca dan melihat di media-media bagaimana tingkah laku The Jak(pendukung Persija Jakarta) yang suka menjurus kepada kericuhan.
Saya meyakinkan diri, bahwa sepakbola itu adalah olahraga yang memacu adrenalin dan saya anggap saja rasa cemas akan kericuhan itu sebagai tantangan yang harus saya hadapi untuk mencapai kepuasan jiwa.
Sang Merah Putih Berkibar
Namun, apa yang saya dapat ketika memarkirkan motor di halaman Mesjid Albina? Suasana begitu tenang dan tidak ada tanda-tanda kelompok yang mau melakukan tindak anarkis.

Mungkin saran saya, untuk menghindari tumpukan massa jangan masuk dari pintu masuk dekat TVRI tapi bisa mencoba masuk dari Mesjid Albina. Karena tumpukan massa itu biasanya terjadi di pintu masuk TVRI.

*****

Masalah calo memang sepertinya sudah seperti menjadi daging di negara kita. Para calo berkeliaran tepat di depan loket tiket resmi. Tebak, dia menjual tiket seharga 25 ribu rupiah dan harga tiket resmi itu adalah 30 ribu rupiahwhat the hell..


Lupakanlah masalah calo, semoga dia mendapat rejeki yang halal dari pekerjaannya. Nah, apa yang saya cari setiap ingin menyaksikan langsung pertandingan sepakbola Indonesia Super League? Gegap gempita suporter dan atmosfer stadion yang bisa memacu adrenalin.

Bagi saya kreatifitas suporter itu yang membuat suasana pertandingan menjadi "hidup". Suara teriakan dukungan yang bergema, gerakan tarian yang seirama, nyanyian yang tiada henti sukses membuat atmosfer stadion menjadi begitu megah dan bisa membuat bulu kuduk berdiri.

Lautan The Jakmania
Mungkin ini salah satu alasan mengapa saya lebih mencintai sepakbola dalam negeri daripada tim luar negeri. Sepakbola dalam negeri bisa langsung kita rasakan euforianya di dalam stadion dan paket hiburannya lebih lengkap, rasa tegang dan gemas menonton pertandingan, rasa kagum melihat kreatifitas dan kekompakan suporter, serta rasa was-was akan terjadinya kericuhan di tribun yang akhirnya memacu hormon adrenalin. Benar-benar suatu orgasme yang sangat nikmat. haha..

Berada di tribun kategori umum dan memakai baju tim yang berbeda sepertinya tidak terlalu bermasalah. Saya aman-aman saja. Saya malah juga sempat melihat keluarga lengkap, ayah ibu dan 2 anaknya menonton pertandingan di tribun ini.

Saya juga banyak melihat anak-anak kecil beserta ayah atau ibunya sangat antusias menyaksikan pertandingan ini. Sepertinya pertandingan terakhir ini menjadi pilihan beberapa keluarga untuk menghabiskan akhir pekan bersama-sama.
Ayo nak, cari tempat duduk..

Bahkan, seperti biasa banyak juga muda-mudi yang memilih pertandingan Persija-PSPS ini sebagai kencan mereka di akhir pekan. Melihat kondisi ini rasanya sungguh sangat menyenangkan hati.
Entahlah, saya tidak terlalu memperhatikan pertandingannya tapi sepertinya pertandingan ini benar-benar mempermainkan perasaan dan emosi para pendukung Persija. Mungkin yang patut dicatat," Sepakbola kita untuk dinikmati, bukan untuk dikomentari."


Pertandingan ini benar-benar menjadi pesta terakhir musim ini bagi para The Jakmania. Hampir semua tribun terisi penuh.

Tribun Selatan yang babak pertama sangat sepi, di babak kedua mendadak diisi oleh para The Jakmania dan langsung membuat stadion bergemuruh lebih kencang.

Apalagi di pertandingan ini, Persija begitu menguasai pertandingan dan memiliki banyak peluang untuk mencetak gol. Persija juga sepertinya benar-benar ingin memanfaatkan pertandingan terakhir ini untuk memberikan hadiah kemenangan kepada The Jakmania yang sudah hadir.

Unggul 1-0 di babak pertama ternyata tidak cukup buat Persija. Mereka terus mengepung barisan pertahanan PSPS yang sampai menit-menit terakhir masih dipayungi keberuntungan.

Luapan Kegembiraan Saat Gol Kedua
Para penonton serta para The Jakmania pun sudah mulai gelisah melihat pemain Persija gagal memanfaatkan banyak peluang untuk menambah gol. Apalagi saat itu, pertandingan ini ibarat partai final untuk menentukan posisi kedua yang diperebutkan oleh Persija dan Arema. Kemenangan dengan selisih gol besar sangat menentukan posisi akhir kedua tim.

Asia, We're Coming
Memasuki menit 89, sepertinya barisan pertahanan PSPS sudah kehilangan konsentrasi. Greg Nwkolo mencetak gol kedua Persija dan membuat stadion kembali bergemuruh.

Belum reda gemuruh tersebut, 2 menit berselang tepatnya di injury time, Agu Casmir melengkapi pesta terakhir musim ini dengan menciptakan gol ketiga untuk Persija.

Ditambah dengan red flare yang menyala di hampir semua tribun, sontak perayaan The jakmania pun semakin meriah. Meski mereka gagal meraih posisi kedua karena rival mereka, karena disaat yang sama Arema menang besar 8-0 atas lawannya Bontang fc.

Kemeriahan pesta ini benar-benar menjadi penutup yang sempurna untuk musim ini. "Ibadah" terakhir pun sudah berjalan dengan khusyuk, tanpa ada kericuhan sedikitpun.

Red Flare Menambah Meriah Suasana

Ya, sepertinya pihak media yang terlalu sering memberitakan hal yang buruk tentang situasi stadion di Indonesia membuat citra di masyarakat umum menjadi jelek. Padahal kalau berbicara tentang kericuhan, di musim ini hanya sekali terjadi kericuhan yaitu saat big match Persib Bandung melawan Arema Indonesia di Stadion Siliwangi, Bandung. Lalu, kenapa takut menonton ke stadion?

Pertandingan di Indonesia Super League gak kalah menariknya kok dengan Liga luar. Atmosfir stadion di Indonesia tidak kalah dengan di Eropa. Malah lebih seru. ya, mungkin hanya karena sudah terlalu dimanja dengan tayangan liga eropa lah yang membuat kita enggan menyaksikan langsung di stadion.
English Premier League menjadi raja di negaranya sendiri dan menjadi pangeran di sejumlah negara. Bukan, yang ingin saya sampaikan disini adalah bagaimana media Inggris mengemas dengan baik pemberitaan untuk merangkul dan menguasai seluruh pecinta sepakbola di dunia
Inilah Potensi Pendukung Sepakbola Kita 
Semua memang tergantung kepada pemberitaan yang akan menciptakan citra baik atau buruk. Nah, bisakah kita mengemas Liga kita ini sehingga menjadi raja di negara sendiri seperti halnya EPL di Inggris? Tentu itu akan menjadi tugas kita bersama.

Salam Satu Jiwa
Beda Warna tapi Satu, Indonesia
foto: RizkiTyo19

0 Komentar di "Persija-PSPS, Pesta Terakhir ISL 2010/2011"

Posting Komentar

Terima Kasih Udah Baca Artikel Blog Tyo. Silahkan berkomentar, bebas dan bertanggung jawab. Oh ya, masih banyak artikel bagus lho di blog ini, ditunggu komentar dan kunjungannya kembali