Sepakbola Kita Harapan, Bukan Kematian

Selasa, 29 Maret 2011

Sepakbola Kita Harapan, Bukan Kematian


"Bung, apakah sepak bola kita menuju kematian?"
Begitu sebuah pertanyaan yang datang dari pembaca BOLA pada Kamis malam kemarin. Pemilihan kata-kata yang sungguh tak terbersit dalam benak saya. Masak sih sepak bola kita menuju kematian?

Tentu tak salah bila ingatan saya kembali kepada sosok Bill Shankly. Mantan pesepak bola era 1920 dan 30-an yang namanya melambung ketika menjadi pelatih Liverpool (1959-74), punya pandangan unik tentang sepak bola.


"Sebagian orang meyakini sepak bola itu tentang hidup dan mati. Saya sungguh kecewa dengan sikap itu. Saya pastikan pada Anda, sepak bola lebih penting dari itu."

Wuih, terkesan menyeramkan, bukan? Benarkah sepak bola lebih vital dari hidup dan mati manusia?

Ketika sepak bola sudah menjadi bagian dalam kehidupan seseorang, makna olah raga ini memang sungguh dahsyat. Sampai-sampai seorang Hugo Sanchez, legenda sepak bola asal Meksiko yang pernah membela Real Madrid, mengajak kita memuja penemu football.

Pernah mendengar nama Anthony Burgess? Dia seorang penulis asal Inggris yang juga mencoba mengaitkan posisi olah raga ini dengan Sang Pencipta. Begini katanya, "Kita punya lima hari untuk bekerja. Hari ketujuh adalah hari Tuhan, sedangkan hari keenam merupakan milik sepak bola."

Lalu, kematian dalam sepak bola membawa saya mengenang nama-nama seperti: Andres Escobar, Marc-Vivien Foe, Robert Enke, Antonio Puerta, hingga Abdon Porte.

Abdon Porte? Bagi kita, sosok ini jelas tak setenar nama-nama yang meninggal dunia terkait sepak bola. Porte lahir tahun 1880 di Montevideo, Uruguay. Semasa membela tim Nacional (1911-18), Porte dikenal sebagai seorang gelandang brilian.

Pers di Uruguay menjulukinya sebagai pemain dengan kaki tiga berkat kekuatan kepalanya. Melihat Porte mulai merangsek maju, bek-bek lawan disebut ketakutan seperti burung melihat kucing datang hendak menerkam.

Porte adalah sosok sederhana, rendah hati, dan tidak bisa menulis. Tapi sebagai seorang pemain sepak bola di Nacional, dia adalah bintang andalan dengan pendapatan 50 pesos, jumlah yang besar saat itu.

Dia kemudian menjadi idola di mata pendukung sepak bola Uruguay setelah membantu negara tersebut menjuarai edisi kedua Copa America (1917) yang digelar di Kota Montevideo, Uruguay.

Tapi, Porte sulit menerima hukum alam. Setelah melakoni ratusan pertandingan bersama Nacional, penampilannya mulai menurun. Kerap kali ia menerima siulan cemooh penonton.

Abdon Porte seperti jatuh dari langit. Ketika pelatih Nacional mulai rutin menempatkannya di bangku cadangan, Porte tak siap melihat orang-orang di sekitar berbisik-bisik membicarakan dirinya, termasuk rekan sendiri.

Ketika usianya belum terlalu senja untuk ukuran sepak bola waktu itu, 38 tahun, ia tak siap melihat kemuliaan berlalu melewatinya tanpa sempat menyapa.

Aneh bin ajaib, setelah lama menjadi pemain cadangan, pada 5 Maret 1918, saat melakoni laga ke-207 untuk Nacional, pelatih mengembalikan Porte ke lapangan Estadio Gran Parque Central. Hari itu ia bermain baik dan membawa Nacional menang 3-1. Tapi keesokan paginya, tubuh Porte ditemukan tergeletak tak bernyawa bersama pistol di dekat tubuhnya.

Tengah malam usai pertandingan, ketika hujan deras dan petis menyambar, Porte memutuskan kembali ke Estadio Gran Parque Central dan mengakhiri hidup di lapangan yang telah membesarkan namanya.

Dalam, surat wasiatnya, pria yang mengawali karier sepak bola profesionalnya di klub Colon itu menyebut tak akan pernah melupakan masa-masa indahnya bersama Nacional dan timnas Uruguay.

Sepak bola telah mengantar Abdon Porte ke panggung mewah yang tak pernah dibayangkannya. Namun semua keindahan dan keagungan itu tak sanggup dilepas dan berakhir pada sebuah keputusan bodoh: bunuh diri.

Kalau sudah begini, bukankah ucapan Bill Shankly menjadi penuh teka-teki?

Eh, ngomong-ngomong, kenapa sih si pembaca BOLA tadi punya pemikiran tentang kematian sepak bola Indonesia?

Tak perlu heran bila ia mengaitkan dengan situasi dalam dunia sepak bola Indonesia saat ini.  Sang pembaca adalah penduduk Kota Pekan Baru, tempat berlangsungnya Kongres PSSI untuk memilih Komite Pemilihan dan Komite Banding (25-27 Maret).

Dalam SMS yang ia kirimkan, terbersit nada khawatir dan pasrah terhadap masa depan sepak bola di Tanah Air. Ia takut, kegembiraan yang selama ini didapat setiap menyaksikan pertandingan sepak bola berubah menjadi tontonan memuakkan yang menyajikan pertarungan kepentingan sekelompok orang.

"Awak ni," demikian ia menyebut dirinya, "tak peduli dengan spanduk-spanduk kontra dan pro pengurus sekarang. Situasi ini semakin menjijikkan. Lama-lama sepak bola kita main di atas kuburan!"

Hmm, sulit bagi saya membangkitkan kembali kepercayaannya kepada tujuan sepak bola lahir di dunia ini. Sebuah kalimat ampuh saya sampaikan melalui telepon seluler yang malam itu baterainya sudah lemot, "Football is about hope. Jangan pernah berhenti berharap. Jangan pernah putus asa menikmati kemurnian drama-drama sepak bola."

Kapan hal itu akan terjadi di Indonesia? Ah, untungnya kalimat terakhir saya kepada rekan di kota kelahiran saya itu diakhiri dengan kalimat, "Maaf, baterai HP sudah mau habis nih."

sumber: bolanews.com

0 Komentar di "Sepakbola Kita Harapan, Bukan Kematian"

Posting Komentar

Terima Kasih Udah Baca Artikel Blog Tyo. Silahkan berkomentar, bebas dan bertanggung jawab. Oh ya, masih banyak artikel bagus lho di blog ini, ditunggu komentar dan kunjungannya kembali