Legenda Indonesia Widodo C. Putro

Kamis, 31 Maret 2011

Legenda Indonesia Widodo C. Putro


Margosari terlalu kecil dibanding panjangnya sejarah sepak bola nasional. Tapi siapa sangka desa yang terletak di Kabupaten Cilacap, yang pernah diterjang banjir pada Januari 2003, itu telah melahirkan Widodo Cahyono Putro. Wiwid—demikian mantan pemain nasional itu dipanggil—lahir dan menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan bermain sepak bola di sana.

Kamis lalu, Widodo kembali mengingat-ingat tanah kelahirannya itu. Dia sejenak kembali ke masa lalu. Udara sejuk yang menyelimuti Sawangan seolah ikut menghangatkan cerita awal perjalanannya menjadi pemain sepak bola andal. “Dulu saya adalah pemain kampung yang main bola dari kampung ke kampung,” katanya.
Beruntung Widodo berada dalam lingkungan keluarga besar yang menyenangi sepak bola. Ayahnya, Suparjo (almarhum), adalah anggota ABRI dan pemain sepak bola di kesatuannya. Bersama enam kakaknya, Widodo memperkuat tim Desa Margosari. Dia sebagai penyerang. “Lingkungan kami sangat mendukung. Di depan rumah ada lapangan sepak bola. Kami sekeluarga sangat akrab dengan permainan sepak bola,” kata Widodo.
Menurut cerita Widodo, setiap kali tim kampungnya bermain, penonton selalu memadati lapangan untuk melihat aksi keluarga besar almarhum Suparjo. Lantaran itu pula, dengan mengendarai sepeda motor tua, bersama sang kakak Widodo tak pernah melewatkan kesempatan. Bahkan dia harus main jauh dari kampungnya. Dia main hingga Tasikmalaya dan Ciamis. “Saya mendapat bayaran seribu hingga seribu lima ratus rupiah. Saya sangat senang.”
Suatu saat, keberuntungan menghampirinya. Pada 1989, dalam sebuah pertandingan di Tasikmalaya, salah satu punggawa klub Warna Agung yang tengah berobat ke Tasikmalaya, Warta Kusuma, melihat Widodo bermain. Widodo, yang ketika itu masih duduk di kelas III sekolah menengah atas, merasa tersanjung karena pemain Pra-Piala Dunia 1986 yang ia kagumi tersebut melihatnya bermain.
“Saya sampai lupa berapa gol yang tercipta, tapi yang jelas saya ingat Pak Warta bilang saya pemain bagus dan bisa berhasil kalau sudah dipoles di klub ternama ibu kota,” katanya.
Widodo tak akan pernah melupakan ketika Warta menghampirinya di bangku cadangan pemain dan mengajaknya pindah ke Jakarta dan bergabung dengan klub Warna Agung. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Widodo mengiyakan. Namun, ia baru bergabung dengan Warna Agung setelah lulus dari SMEA, tiga bulan kemudian. Ia juga langsung mengundurkan diri dari tim kampungnya untuk hijrah ke Jakarta. Tak banyak yang tahu mengenai kepergiannya, kecuali teman dekatnya di klub dan keluarganya.
Di Warna Agung , nama Widodo langsung moncer. Apalagi setelah ia mendapat polesan dari drg Endang Witarsa, pelatih Warna Agung. Hanya berselang satu tahun, Widodo dipercaya memperkuat tim nasional. Pada 1991, dia ikut mengharumkan nama Indonesia sebagai juara SEA Games di Manila. Nama Widodo terpampang di berbagai media massa setelah mampu mencetak gol terbaik di putaran final Piala Asia 1996. Pemuda sederhana dari Desa Margosari, Cilacap, ini ketika itu pula menjadi ikon bagi anak-anak di kampungnya. Widodo menjadi idola yang mengangkat nama keluarga dan kampung halamannya.
Perlahan tapi pasti, karier Widodo mulai menanjak. Di level klub, prestasi terbaiknya adalah mengantar Persija Jakarta dan Petrokimia Putra menjadi juara Liga Indonesia VII dan VIII. Widodo juga dikenal sebagai pemain yang tidak temperamental. Ia tidak pernah mendapat kartu merah dan hanya satu kali mendapat kartu kuning.
Namun, catatan emasnya sebagai pemain tak berlanjut kala ia memutuskan menjadi pelatih. Pada awal kepelatihannya, saat menggantikan Mundari Karya di Petrokimia Putra pada musim kompetisi 2004/2005, Widodo tidak bisa membawa klub tersebut mengulangi kejayaan seperti saat merebut gelar juara. Bahkan Kebo Giras—julukan Petrokimia Putra—malah terperosok ke divisi I alias terdegradasi. Itu menjadi catatan kelam bagi seorang pelatih pemula.
“Saya akui saat itu saya memang kurang pengalaman menangani sebuah tim. Itu pertama kali saya ditunjuk sebagai pelatih kepala. Ilmu saya belum cukup.”
Widodo, anak desa ini, sekarang berada di tim nasional. Dia adalah asisten Benny Dolo yang sedang mempersiapkan tim ke kualifikasi Piala Asia 2011. Di arena itu, Widodo pernah menjadi bintang. Di Stadion Jeque Zayed, Uni Emirat Arab, Widodo mencetak gol spektakuler. Widodo membuat gerakan salto dan dalam hitungan detik, ia menendang bola tersebut sehingga menembus gawang Kuwait. Indonesia menahan Kuwait 2-2.
Gol yang tercipta pada menit ke-16 pada 4 Desember 1996 itu menjadi gol terbaik Asia pada saat itu. Meski hanya untuk satu hari, aksi salto itu juga tercatat sebagai gol terbaik dunia dan Widodo adalah bintangnya. 
Nama: Widodo Cahyono Putro 
Tempat, tanggal lahir: Cilacap, 8 November 1970
Istri: Adna Rohani Tucunan
Anak:
- Eaglian Daniel C. Putro
- Anya Aurellia Putri
Klub: 
- Warna Agung (1989-1993)
- Petrokimia Gresik (1992-2000)
- Persija Jakarta (2000-2003)
Tim Nasional: 
- Pra-Olimpiade dan SEA Games Filipina (1991)
- Piala Asia Uni Emirat Arab (1996)
- SEA Games Jakarta (1997)
- SEA Games Brunei (1999)
Pelatih: 
- Petrokimia Gresik (2004/2005)
- Asisten pelatih Persijap Jepara (2005/2006)
- Asisten pelatih tim nasional (2006/2009)
- Pelatih Utama persela Lamongan (2009-2010)
- Asisten Pelatih Timnas Indonesia (2010-....)

sumber: ultrasgresik.web.id

Video gol indah Widodo C. Putro saat Piala Asia 1996

0 Komentar di "Legenda Indonesia Widodo C. Putro"

Posting Komentar

Terima Kasih Udah Baca Artikel Blog Tyo. Silahkan berkomentar, bebas dan bertanggung jawab. Oh ya, masih banyak artikel bagus lho di blog ini, ditunggu komentar dan kunjungannya kembali